Kamis, 15 Desember 2011

Merokok Sebuah Perilaku yang Irasional

ARTIKEL:

Merokok Sebuah Perilaku yang Irasional

Penulis: Bambang Setiaji

Bagaimana kira-kira tanggapan anda bila anda ditawari oleh seseorang atau iklan tertentu yang gencar menawarkan sebuah produk makanan dan minuman, dimana produk tersebut ternyata dapat menyebabkan anda menderita kanker, dapat menyebabkan  anda menderita penyakit jantung, dapat menyebabkan anda impoten, bahkan katanya produk tersebut cenderung makruh dan haram. Produk tersebut juga menawarkan bonus lainnya seperti dapat menyebabkan anda ketagihan dan dapat menyebabkan kebotakan. Bila anda ditawari produk tersebut, mungkinkan anda membeli dan mengkonsumsinya ? Secara rasional tentu kita tidak akan membeli dan mengkonsumsi produk tersebut. Namun bagi produk yang namanya rokok, hal itu ternyata tidak berlaku bagi masyarakat kita. 


Konsumsi rokok masyarakat Indonesia ternyata masih cukup tinggi. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 (Depkes,  2006)  menunjukkan bahwa penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok tercatat sebanyak 34,44%, terdiri dari merokok setiap hari 28,35% dan kadang-kadang 6,09%. Riset Kesehatan Dasar (2007) menunjukkan  bahwa penduduk usia lebih dari 10 tahun yang merokok setiap hari sudah mencapai 23,7%. Secara nasional persentase yang merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif 25-64 tahun dengan rentang rerata 29% sampai 32%. Hasil penelitian terhadap sektor informal (Bambang Setiaji, 2006) menunjukkan bahwa 85% tukang ojek  mempunyai kebiasaan merokok. Rata-rata jumlah rokok yang dihisap tukang ojek adalah 11 batang rokok perhari, dengan rata-rata pengeluaran untuk rokok perhari mencapai Rp 7.500,-.Sebagian besar tukang ojek (85%) pernah mengalami kesulitan uang untuk berobat. Mereka mencari uang untuk berobat dengan cara meminjam (39%), meminta bantuan saudaranya (37%), menjual barang/harta (17%), dan minta kartu SKTM (7%). Hampir semua tukang ojek yaitu 97% merasa khawatir bila suatu saat mereka sakit. Menurut sebagian besar mereka (73%) kekhawatiran yang timbul adalah tidak punya uang dan hilangnya kesempatan mencari nafkah. Sebagian besar tukang ojek (86%)mengatakan bila sakit akan mengganggu pekerjaan sehari-harinya, kurang lebih selama 4 hari. Perkiraan rata-rata kehilangan pendapatan selama sakit kuranglebih Rp 83.000,- 


Data dari profil tembakau Indonesia (2008), menunjukkan bahwa belanja rokok rumah tangga perokok diIndonesia menempati urutan nomor 2 (10,4%) setelah makanan pokok padi-padian(11,3%), sementara pengeluaran untuk daging, telur dan susu besarnya rata-ratahanya 2%. Pengeluaran untuk rokok  lebihdari 5 kali lipat pengeluaran untuk makanan bergizi. Dilihat dari proporsitotal pengeluaran bulanan, belanja rokok mencapai lebih dari 3 kali pengeluaran untuk pendidikan (3,2%) dan hampir 4 kali lipat pengeluaran untuk kesehatan(2,7%). 


Berbagai hasil penelitian baik dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa perilaku merokok terbukti dapat berdampak buruk terhadap kesehatan dan ekonomi keluarga. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan jumlah kematian di dunia akibat konsumsi rokok pada tahun 2030 akan mencapai 10 juta orang setiap tahunnya dan sekitar 70% diantaranya terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Diperkirakan rakyat Indonesia pada tahun 2007 membakar uang untuk merokok senilai lebih dari Rp 120 triliun (Thabrany, 2008). 


Kebanyakan dari perokok tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang diperalat oleh produsen rokok agar terus mengkonsumsi rokok demi keuntungan mereka. Propaganda terus dilakukan oleh produsen rokok agar para perokok tetap menggangap kebiasaan merokok sebagai suatu perilaku yang rasional dan umum dilakukan. Padahal sudah jelas  perilaku merokok merupakan suatu perilaku yang tidak rasional dan banyak mudharatnya.     

editor: yarman pandu

Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Perilaku Merokok Pekerja Sektor Informal

ARTIKEL:

Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Perilaku Merokok Pekerja Sektor Informal

Penulis: Bambang Setiaji

Merokok merupakan masalah yang serius karena pengaruhnya pada berbagai aspek, yaitu aspek kesehatan, aspek ekonomi, aspek sosial. Ditinjau dari sisi kesehatan, kebiasan merokok telah terbukti berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit dari berbagai alat tubuh manusia, seperti kanker paru, bronkitis kronik, emfisema dan berbagai penyakit paru lainnya (Aditama, 1997).
Estimasi biaya yang hilang akibat konsumsi tembakau adalah Rp167,1 triliun. Jumlah tersebut 5,1 kali lipat pemasukan cukai rokok sendiri yang hanya sebesar Rp32,6 triliun pada tahun 2005. Belanja rokok rumah tangga perokok di Indonesia menempati urutan nomor 2 (10,4%) setelah makanan pokok padi-padian (11,3%), sementara pengeluaran untuk daging, telur dan susu besarnya rata-rata hanya 2%. Belanja rokok juga tercatat lebih dari 3 kali pengeluaran untuk pendidikan (3,2%) dan hampir 4 kali lipat pengeluaran untuk kesehatan (2,7%).
Ironisnya, perilaku merokok justru didominasi oleh keluarga miskin. Dua belas juta ayah dari 19 juta keluarga miskin adalah perokok dengan asumsi rata-rata merokok sebanyak 10 batang setiap harinya (Republika, Rabu 21 November 2007). Selain itu, Susenas tahun 1995, 2001, dan 2004 menunjukkan proporsi pengeluaran rokok masyarakat termiskin (K1), lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat terkaya (K5). Perbandingan pengeluaran rokok K1 dan K5, tahun 1995 adalah (6,1 : 4,9), tahun 2001 adalah (9,1 : 7,5), dan tahun 2004 adalah (10,9 : 9,7).
Di belahan dunia lain setali tiga uang. Pria pada rumah tangga miskin dengan pendidikan lebih rendah di Chicago merupakan perokok (Dell dkk, 2005). WHO juga melaporkan, bahwa jumlah perokok paling banyak berasal dari kalangan masyarakat miskin. Di Madras, India mayoritas perokok justru dari kelompok masyarakat buta huruf. Hasil riset lainnya di berbagai negara membuktikan hal yang serupa, bahwa rokok lebih banyak dikonsumsi oleh kelompok masyarakat termiskin.
Kelompok masyarakat dengan sosial ekonomi rendah yang patut mendapat perhatian dalam bidang kesehatan adalah pekerja sektor informal. Diperkirakan saat ini jumlah pekerja sektor informal besarnya sekitar  64 % dari angkatan kerja. Salah satu pekerja sektor informal yang saat ini menjadi alternatif pilihan  masyarakat dalam mencari nafkah adalah tukang ojek.
Hasil penelitian pendahuluan terhadap 108 tukang ojek yang dilakukan di Jakarta, Bekasi dan Depok tahun 2006 menunjukkan bahwa 85 % tukang ojek adalah perokok, 20 % lebih tinggi dibanding prevalensi merokok laki-laki dewasa nasional tahun 2004 (Susenas, 2004). Rata-rata jumlah rokok yang diisap tukang ojek adalah 11 batang rokok perhari, dengan rata-rata pengeluaran untuk rokok perhari mencapai Rp7.500.

Masalah kesehatan yang dihadapi oleh tukang ojek pun tidak kalah pelik, 85% pernah mengalami kesulitan uang untuk berobat. Mereka mencari uang untuk berobat dengan cara meminjam (39%), meminta bantuan saudaranya (37%), menjual barang/harta (17%), dan minta kartu SKTM (7%). Hampir semua tukang ojek merasa khawatir bila suatu saat mereka sakit. Sebagian besar dari mereka juga khawatir tidak punya uang dan tidak bisa mencari nafkah. Perkiraan rata-rata kehilangan pendapatan selama sakit kurang lebih Rp83.000.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini dikembangkan intervensi promosi kesehatan berupa  promosi berhenti merokok melalui pendekatan ekonomi yang berorientasi kepada sasaran yang spesifik tukang ojek dan upaya menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidak merokok. Penelitian ini dilakukan untuk menilai pengaruh promosi kesehatan terhadap perilaku merokok dan pengeluaran biaya rokok tukang ojek.
 Model Hubungan Timbal Balik antara Individu, Lingkungan, dan Perilaku
Hubungan Timbal Balik antara Individu, Lingkungan dan Perilaku
(Modifikasi dari Social Cognitif Theory (SCT), Bandura)
Dapat dijelaskan bahwa ada hubungan timbal balik antara faktor individu, faktor lingkungan dan faktor perilaku merokok. Semakin positif faktor individu dalam memahami masalah merokok maka individu tersebut tidak akan merokok demikian sebaliknya. Semakin positif faktor lingkungan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidak merokok, maka perilaku merokok tidak akan terjadi demikian juga sebaliknya.  Di sisi yang lain terjadi juga hubungan timbal balik antara faktor individu dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku merokok. Intervensi promosi kesehatan diharapkan dapat mengubah faktor individu dan lingkungan menjadi kondusif dalam menciptakan perilaku tidak merokok.
Objek dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada tukang ojek yang merokok dan  mempunyai organisasi di wilayah kampus UI Depok sebagai kelompok intervensi dan Cijantung Jakarta Timur sebagai kelompok kontrol. Informasi awal  tukang ojek yang merokok diperoleh dari pengelola tukang ojek disetiap pangkalan. Selanjutnya dipilih sampel  secara proporsional sampling pada setiap pangkalan ojek sampai diperoleh sebanyak 160 responden pada masing-masing kelompok.
Promosi Kesehatan
Upaya promosi kesehatan yang dikembangkan adalah promosi berhenti merokok melalui pendekatan ekonomi berorientasi sasaran dan upaya menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidak merokok. Peningkatan pengetahuan dilakukan melalui penyuluhan dan penyebarluasan media cetak kepada tukang ojek. Sedangkan pengembangan lingkungan yang kondusif untuk tidak merokok dilakukan melalui pemasangan media cetak di sekitar pangkalan dan pertemuan dengan pengelola tukang ojek. Secara rinci pelaksanaan intervensi adalah sebagai berikut:
Intervensi Promosi Berhenti Merokok
SASARAN
INTERVENSI
LAMA
FREKUESNI
  • Tukang ojek
  • Penyuluhan

  • Pemberian selebaran media cetak
  • Pemasangan poster di sekitar pangkalan
  • Pemberian kalender
  • Pemasangan stiker di motor
  • + 45 mnt


  • 4 bulan
  • 2 minggu sekali (10 kali), dalam 6 bulan
  • 10 jenis media
  • Diganti setiap 2 minggu sekali
  • 1 kali
  • 1 kali
  • Pengelola tukang ojek
  • Pertemuan, pemberian selebaran, buku saku
  • + 1 jam
  • 1 bulan sekali, selama 6 bulan
  • Pembina Lingkungan Kampus
  • Pendekatan guna mendukung pelaksanaan intervensi di lapangan
  • + 45 mnt
  • 3 kali

Perubahan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Merokok RespondenDalam penelitian ini telah dilakukan suatu metode promosi kesehatan yang spesifik ditujukan kepada tukang ojek dan upaya menciptakan dukungan sosial. Terdapat berbedaan yang signifikan di daerah intervensi terkait perbedaan pengetahuan, perbedaan sikap, perbedaan perilaku, dan perbedaan pengeluaran biaya rokok dalam sehari antara sebelum dan sesudah dilakukan promosi kesehatan.
Berdasar hasil penelitian, dapat disimpulkan, bahwa:
  1. Pengetahuan dan sikap responden pada kelompok intervensi mengalami kenaikan sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada kenaikan.
  2. Sikap positif tukang ojek terkait masalah rokok meningkat setelah dilakukan upaya promosi kesehatan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada peningkatan.
  3. Promosi kesehatan berpengaruh terhadap kemungkinan berhenti merokok tukang ojek. Penurunan jumlah perokok daerah intervensi lebih besar 1,7 kali dibanding daerah kontrol.
  4. Promosi kesehatan berpengaruh signifikan terhadap penurunan biaya rokok yang dikeluarkan tukang ojek. Pada daerah intervensi, konsumsi rokok bisa menurun hingga Rp2.500 sedangkan pada daerah kontrol hanya sebesar Rp300 setiap harinya.
Mengubah perilaku masyarakat untuk berhenti merokok memang tidak mudah karena merokok sudah menjadi kebiasaan umum di beberapa kelompok masyarakat, termasuk tukang ojek. Untungnya, masih ada sikap positif masyarakat terhadap perilaku merokok. Semua responden dalam penelitian kualitatif setuju bila pengeluaran rokok dapat dialihkan untuk kebutuhan pokok rumah tangga lainnya. Caranya bervariasi, yaitu secara bertahap mengurangi jumlah rokok, dan perlu niat berhenti yang tinggi.
Pengembangan Media Baru
Dalam penelitian ini dikembangkan juga beberapa media cetak promosi kesehatan, baik berupa poster dan selebaran. Media tersebut dikembangkan dengan cara memproduksi media yang sudah ada dan memproduksi baru. Dalam penelitian ini juga dilakukan penilaian terhadap 5 (lima) jenis media cetak produksi baru berupa poster. Penilaian dilakukan untuk melihat sejauh mana media tersebut menarik, informatif, memotivasi, komunikatif, dan efektif bagi sasaran. Penilaian dilakukan secara kualitatif melalui diskusi kelompok terarah.
                                                            Media Produksi Baru yang dikembangkan
              P1               P2                         P3                     P4                    P5

                    
  1. Poster yang paling menarik adalah poster 1
  2. Poster yang paling informatif adalah poster 2
  3. Poster yang paling memotivasi adalah poster 2 dan poster 3
  4. Poster yang paling komunikatif adalah poster 4 dan poster 5
  5. Poster yang paling efektif adalah poster 1 dan poster 2
editor: yarman pandu

Rabu, 14 Desember 2011

SAKA (satuan karya) pramuka




  1. Satuan Karya disingkat Saka yaitu wadah pendidikan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan, serta memotivasi mereka untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupannya, serta bekal pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, sesuai dengan aspirasi pemuda Indonesia dan tuntutan perkembangan pembangunan dalam rangka peningkatan ketahanan nasional.
  2. Krida adalah satuan kecil yang merupakan bagian satuan karya pramuka, sebagai wadah kegiatan keterampilan tertentu, yang merupakan bagian dari kegiatan saka.
  3. Pimpinan saka adalah badan kelengkapan kwartir, yang bertugas memberi bimbingan organisatoris, dan teknis kepada saka yang bersangkutan serta memberikan bantuan fasilitas dan kemudahan lainnya.
  4. Pamong saka adalah anggota dewasa gerakan pramuka, yang bertanggungjawab atas pembi-naan dan pengembangan saka.
  5. Instruktur saka adalah anggota gerakan pramuka atau seseorang yang bukan anggota gerakan pramuka, yang karena kemampuan dan keahliannya, menyumbangkan tenaga dan kemampuannya, untuk membantu pamong saka.
  6. Dewan saka adalah badan yang dibentuk oleh anggota saka, beranggotakan pramuka penegak dan pandega, yang bertugas memimpin pelaksanaan kegiatan saka sehari-hari.
  7. Musyawarah saka adalah suatu forum atau tempat pertemuan para anggota saka, guna membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan saka, yang diselenggarakan antara lain untuk memilih dewan saka.
  8. Pemuda yang dimaksud dalam petunjuk penyelenggaraan ini adalah para remaja dan pemuda, putera maupun puteri, yang berusia 11 (sebelas) sampai dengan 25 (duapuluhlima) tahun.
Saka yang sudah ada di Indonesia sekarang ada 8, yaitu:

  1. SAKA BHAYANGKARA    : BIDANG KEPOLISIAN
  2. SAKA TARUNA BUMI       : BIDANG PERTANIAN 
  3. SAKA KENCANA               : BIDANG KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
  4. SAKA BAKTI HUSADA      : BIDANG KESEHATAN
  5. SAKA WIRA KARTIKA      : BIDANG BELA NEGARA
  6. SAKA BAHARI                     : BIDANG KELAUTAN
  7. SAKA DIRGANTARA          : KEUDARAAN


Tujuan

Tujuan pembentukan saka adalah untuk memberi wadah pendidikan bagi para pramuka pandega dan pemuda untuk :

  • Mengembangkan bakat, minat, penegtahuan, kemampuan, keterampilan dan pengalaman dalam bidang kejuruan tertentu.
  • Meningkatkan motivasi melaksanakan kegiatan nyata dan produktif.
  • Memberi bekal bagi kehidupan dan penghidupannya.
  • Memberi bekal bagi pengabdiannya pada masyarakat, bangsa dan negara guna menunjang pembangunan nasional. Sehingga dapat meningkatkan mutu dan tarf kehidupan serta dinamika gerakan pramuka, serta peranannya dalam pembangunan nasional.


Sasaran

Sasaran pembentukan saka bagi pramuka penggalang dan pramuka penegak serta pramuka pandega adalah agar selama dan setelah mengalami pendidikan dalam saka, mereka :
  • memiliki tambahan pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kecakapan yang dapat mendukung kehidupan dan penghidupannya atau pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara.
  • meningkatkan kemantapan mental dan fisiknya
  • memiliki rasa tanggungjawab atas dirinya, masyarakat, bangsa dan negara serta tanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • memiliki sikap dan cara berfikir yang lebih matang dalam menghadapi segala tantangan dalam hidupnya.
  • dapat melaksanakan kepemimpinan yang bertanggungjawab, berdayaguna dan tepatguna.
  • dapat menyelenggarakan berbagai kegiatan yang positif, berdayaguna dan tepatguna sesuai dengan minat dan bakatnya.
  • menjalankan secara nyata trisatya dan dasa darma.


Sifat

  • Saka bersifat terbuka bagi pemuda dan pramuka penggalang, penegak, dan pandega, baik putera maupun puteri.
  • Saka bersifat pendidikan luar sekolah sesuai dengan minat, kegemaran dan bakat para pemuda, termasuk pramuka penggalang, terutama pramuka penegak dan pandega.


Fungsi

  • Wadah pengenalan awal, pembinaan dan pengembangan pengetahuan dan keterampilan di bidang kejuruan tertentu.
  • Sarana untuk pelaksanaan kegiatan nyata dan produktif, serta bakti kepada masyarakat.
  • Pelengkap pendidikan kepramukaan di gugusdepan.
  • Alat untuk mencapai tujuan gerakan pramuka.
 
Kewajiban

Seorang anggota saka berkewajiban untuk :

  • Menaati dan menjalankan trisatya dan dasa darma serta peraturan-peraturan saka.
  • Menaati anggaran dasar dan anggaran rumah tangga gerakan pramuka.
  • Menjaga nama baik gerakan pramuka.
  • Mengikuti dengan rajin dan tekun latihan dan kegiatan yang diadakan oleh sakanya dan kegiatan gerakan pramuka lainnya.
  • Membina, mengembangkan dan menerapkan kecakapan dan keterampilan nya dalam kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat dan lingkungannya.
  • Berusaha menjadi teladan atau panutan bagi rekan-rekannya, keluarganya dan masyarakat. perundang-undangan yang berlaku serta adat istiadat masyarakat
  • Menjalankan tugas sebagai instruktur muda dalam gugusdepan atau gugusdepan lain atas permintaan dan persetujuan Pembina gugusdepan yang bersangkutan.

DASA DARMA PRAMUKA


Setiap anggota Gerakan Pramuka wajib memahami isi
dan makna Dasa Darma Pramuka yang merupakan ketentuan moral. Dalam
kegiatan Pramuka di tingkat gugus depan, Dasa Darma menjadi materi
wajib di setiap tingkatan, baik penggalang, ramu, rakit, dan terap.
KALAU dilihat dari isi materi tersebut, ternyata
Dasa Darma memiliki nilai kandungan dalam diri manusia sebagai pribadi
manusia seutuhnya. Metode penghafalan materi tersebut dalam kegiatan
Pramuka sudah banyak yang diperkenalkan oleh para pembina, dengan cara
tersendiri.
Penulis pun sebagai pembina di lapangan memiliki
cara atau pedoman agar siswa dapat menghafal Dasa Darma Pramuka dengan
mudah. Pedoman itu adalah Ta-Ci-Pa-Pat-Re-Ra-He-Di-Ber-Su.
Dasa Darma Pramuka itu
1. Ta: Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebagai
pribadi yang lemah, kita harus menyembah Tuhan YME. Dia adalah pencipta
yang ada di bumi dan di langit dan segala makhluk yang terlihat maupun
tidak terlihat. Sebagai pribadi lemah dan ciptaan-Nya, kita wajib
menjalankan perintah-Nya. Contohnya, sebagai muslim mengerjakan salat
lima kali sehari semalam, membaca Alquran, puasa, dan lain-lain.
2. Ci: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
Selain sebagai makhluk pribadi, kita juga sebagai makhluk sosial.
Artinya, makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Kita perlu teman,
bergaul, bertetangga. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita
memerlukan bantuan orang lain.
3. Pa: Patriot yang sopan dan ksatria. Sebagai
Pramuka, kita harus berperilaku yang sopan. Tindak-tanduk dalam
bersikap dan bertutur kata mesti diperhatikan. Kesopanan melambangkan
pribadi seseorang di tengah-tengah pergaulan dalam masyarakat.
4. Pat: Patuh dan suka bermusyawarah. Dalam situasi
dan kegiatan apa pun, anggota Pramuka wajib taat dan patuh terhadap
aturan yang berlaku, dan dalam kegiatan Pramuka selayaknya
bermusyawarah dalam mengambil keputusan terbaik dan memuaskan.
5. Re: Rela menolong dan tabah. Pramuka senantiasa
rela dalam menolong tanpa membedakan agama, warna kulit, suku, dan
sebagainya, dan harus didasari oleh hati yang ikhlas, tulus, tanpa
diembel-embeli oleh sikap ingin dipuji. Dalam setiap perjuangan itu
seorang anggota Pramuka harus tabah menghadapi gangguan, tantangan,
halangan, dan hambatan.
6. Ra: Rajin, terampil, dan gembira. Anggota Pramuka
itu harus rajin melakukan sesuatu yang positif. Kegiatan ketika ia
berada dalam pembinaan Pramuka harus diimplementasikan dalam kegiatan
sehari-hari. Jangan rajin karena waktu penggodokan dalam kegiatan,
tetapi harus dibuktikan ketika ia di rumah, di sekolah. Dalam
melaksanakan kegiatan itu pun harus dilaksanakan dengan senang dan
gembira.
7. He: Hemat, cermat, dan bersahaja. Ada ungkapan
yang mengatakan “hemat pangkal kaya”. Betul sekali dengan berhemat,
tidak menghambur-hamburkan uang untuk jajan, tidak berhura-hura untuk
kepentingan sesaat merupakan awal menjadi orang kaya. Pramuka harus
cermat dalam pengeluaran uang, memprioritaskan apa yang harus dibeli
atau didahulukan, dan mana yang tidak perlu janganlah dibeli. Meskipun
ia kaya, seorang Pramuka jangan sombong di depan orang lain, jangan
angkuh, bersahaja dalam bergaul.
8. Di: Disipilin, berani, dan setia. Anggota Pramuka
harus hidup dengan disiplin, baik dalam waktu belajar di sekolah,
bermain, dan sebagainya. Kalau Pramuka seperti itu maka hidup tak akan
percuma, tetapi akan berguna dalam mencapai cita-cita. Anggota Pramuka
harus berani karena benar, tetapi takut karena salah. Jangan berani
karena kesalahan, beranilah karena kebenaran. Pramuka harus setia
terhadap janji setianya karena itulah nilai-nilai luhur pribadi manusia.
9. Ber: Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Setiap anggota Pramuka harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah
ia perbuat, jangan lari, jangan lempar batu sembunyi tangan. Ia harus
konsekuen karena ini adalah modal dari kepercayaan terhadap kita.
10. Suc: Suci dalam pikiran, perkataan, dan
perbuatan.
Inilah pribadi manusia yang sejati, bersih pikiran, tidak
ada iri dan dengki.